27 July 2018

Mural, Salah Satu Seni yang Ikut Meramaikan Asian Games 2018

Mural, Seni yang Ikut Meramaikan Asian Games 2018
Image: speakingmagz.com

Mural, Salah Satu Seni yang Ikut Meramaikan Asian Games 2018 - Perhelatan Asian Games 2018 akan segera dimulai pada tanggal 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018. Pada Asian Games kali ini, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya sejak 56 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1962. Asian Games 2018 akan digelar di dua kota, yakni Jakarta dan Palembang. Sepanjang sejarah Asian Games, baru kali ini akan ada dua kota yang dijadikan tuan rumah. Indonesia menjadi negara pertama yang menggelar Asian Games di dua kota dalam satu negara secara bersamaan.

Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, membuat pemerintah gencar-gencarnya membangun kedua infrastruktur yang menjadi tempat pesta olahraga terbesar di Asia tersebut, yakni Jakarta dan Palembang. Selain itu, pemerintah juga menyambut Asian Games dengan membuat sebuah seni kuno yang bernama Mural di setiap dinding dan tembok di dua kota tersebut. Seperti apa sih Mural itu? Berikut foto-fotonya.

Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang


Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang - 1
 Image: beritagar.id

Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang - 2
Image: inilah.com

Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang - 3
 Image: kompas.com

Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang - 4
 Image: netralnews.com

Foto-Foto Mural Asian Games 2018 Di Jakarta dan Palembang - 5
Image: tempo.co

Gimana? Sangat menarik bukan? Oh ya, sebelumnya sobat sudah tau belum nih, apa sih Mural itu dan bagaimana sejarahnya? Kalo belum tau, simak ulasannya berikut ini!

Apa Sih Mural Itu?


Apa Sih Mural Itu?
Image: kompas.com

Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.

Mural adalah salah satu bentuk seni kuno dalam sejarah peradaban manusia. Karya-karya manusia ini dapat dilihat jejaknya pada peninggalan-peninggalan sejarah terutama gua-gua di berbagai dunia. Dari lukisan batu suku Aborigin di Australia sampai kepada lukisan binatang-binatang dalam gua Lazcaux di Perancis. Mural menghadirkan tema-tema kehidupan pada zaman prasejarah umat manusia yang selalu menarik perhatian

Pada masa kini, mural juga dapat dipakai untuk menjadi tempat yang menarik dan hidup sehingga dapat menjadi sarana yang efektif untuk revitalisasi budaya dan ekonomi. Seni mural bisa berperan dalam berbagai aspek psikososial warga sehingga perlu direncanakan dengan konsep ketahanan lingkungan yang perlu selalu ditanamkan dalam benak warga.

Sayangnya kebanyakan mural yang ada di tempat-tempat lain masih belum berkualitas jika dilihat dari nilai seninya dan sebagian malah tampak seperti vandalisme liar dan menjadi polutan visual yang mengganggu pemandangan kota daripada memenuhi kebutuhan estetis warga. Seringkali tembok-tembok luas yang dapat digunkan untuk mural malah digunakan untuk corat-coret dari pelaku vandalisme misalnya sarana untuk menandai wilayah bagi para kelompok geng motor.

Belum adanya manajemen mural profesional dan masih rendahnya pemerintah kota terhadap kebutuhan estetis warga kota untuk menjadikan mural sebagai sarana ekspresi seni warga membuat mural-mural yang ada bukannya memperindah kota, namun justru membuat kotor. Bahkan mural-mural yang pada mulanya cukup ekspresif dan bernilai estetis tinggi akhirnya menjadi rusak karena tidak adanya manajemen yang baik menyangkut tema, tata letak, skema warna, gaya lukisan, dan sebagainya. Jadi, daripada menjadi pameran seni, mural-mural yang ada di Bandung saling tumpang tindih tak beraturan dengan warna yang bertabrakan dan menciptakan ketidakserasian dan malah menciptakan stress lingkungan.

Mural pada hakikatnya mampu mendukung ketahanan psikososial lingkungan dengan setidaknya memenuhi tujuh dari sembilan kebutuhan komunitas warga, sebagaimana diuraikan ahli ekonomi Max Neef dan Ekin (1997), yaitu kebutuhan berkarya, berpartisipasi, memperoleh kesenangan, beraktualisasi, beridentitas, berpenghidupan, dan mendapat perlindungan. Kebutuhan berkarya dipenuhi oleh seniman mural lokal yang membuat mural dengan tema dan warna yang menarik sehingga menciptakan lingkungan yang lebih baik.

Partisipasi dipenuhi oleh seniman yang bertugas untuk membuat mural dan warga yang menikmati hasil pekerjaan seniman sekaligus merawatnya agar bertahan lama. 

Mural juga dapat digunakan sebagai media pendidikan, sarana aktualisasi diri warga, memperkuat karakteristik suatu tempat, dan juga membangun identitas warga setempat. 

Nah, dari ulasan di atas, Mural memang sangat cocok untuk ikut meramaikan Asian Games bukan? Adakah mural di tempat sobat? Apakah sobat menikmatinya? Tulis jawaban sobat di kolom komentar ya!

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon